Rampogan Pascakolonial
Ditoelis pada 24 September 2009 poekoel 3:43 PMSeno Gumira Ajidarma
Komik karya Peter van Dongen ini, Rampokan Jawa (2004) adalah pendahulu bagi bagian yang kedua, yakni Rampokan Celebes (2005). Dengan kata lain istilah rampokan itu masuk akal jika ditafsirkan sebagai tema utama kedua komiknya, yang memang belum terjelaskan terlalu gamblang apa fungsinya dalam bagian pertama.

RAMPOKAN yang mestinya dieja rampogan adalah tema dua komik Peter van Dongen, Rampokan Jawa (2004) dan Rampokan Celebes (2005) yang terbit di Belanda dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Meski begitu, agaknya tetap penting untuk berbincang tentang rampokan tersebut, dalam konteks bahwa penulisnya adalah Peter van Dongen yang lahir di Amsterdam tahun 1966, dan mengenal Indonesia sebagai “Hindia” melalui dongeng ibunya yang berdarah Peranakan Tionghoa dari Makassar.
Bagaimanakah kiranya Indonesia akan terpandang dari kacamata Belanda dengan latar belakang seperti itu? Bias kebudayaan macam apakah kiranya yang mungkin berlangsung dari posisi tersebut? Tidak salah jika dikatakan bahwa kedua komik yang terbit di Belanda di bawah tajuk rampokan ini adalah materi yang cocok bagi pendekatan kajian kolonialisme/pascakolonialisme.
Dengan terdapatnya tanda baca garis miring (/) berarti kondisi pascakolonial tidak mungkin dibicarakan terpisah dari situasi kolonial yang mendahuluinya -dan komik ini akan menunjukkannya.
Tafsiran Politis
Persoalan sudah dimulai dengan ejaan rampokan itu sendiri, yang selama ini ditulis dengan rampogan. Sangat mudah untuk mengatakan bahwa ejaan rampokan itu “salah”- tetapi jauh lebih produktif untuk mempertimbangkan bahwa perbedaan antara rampokan dan rampogan itu disebabkan oleh faktor-faktor determinan tak terhindarkan, yang berakar dari penafsiran atas peristiwa rampokan/rampogan itu sendiri.
Rampokan/rampogan adalah suatu pertunjukan yang merupakan tradisi di Jawa pada akhir abad XIX sampai awal abad XX. Pertunjukan itu berlangsung pada hari Lebaran, sebagai bagian dari perayaan menutup bulan Ramadhan. Pada hari itu penduduk akan datang berbondong-bondong ke alun-alun, melingkari alun-alun itu dengan berdesak-desakan, tempat di mana baris terdepan terdiri dari orang-orang yang membawa tombak panjang dan runcing.
Di salah satu sisi terdapatlah panggung bagi para pejabat setempat, biasanya setingkat bupati dan para pejabat Hindia Belanda juga-mereka siap menyaksikan peristiwa rampog macan, yang tak lebih dan tak kurang adalah pertunjukan membantai harimau, baik harimau loreng, tutul, maupun kumbang yang hitam kelam itu.
Makhluk-makhluk ini ditangkap dari hutan, lantas dimasukkan ke dalam kotak yang terlihat berjajar di alun-alun. Kotak itu sengaja dibuat untuk acara rampokan/rampogan ini, sehingga terdapat mekanisme pembukaan kotak yang membuat sang raja hutan terpaksa keluar dari kotak setelah sisi-sisinya terbuka. Untuk kotak yang hanya bisa dibuka salah satu sisi, sehingga memungkinkan harimau di dalamnya tetap tidak keluar, maka tersedia lubang di sisi lain agar bisa dimasuki tombak untuk menyodok-nyodok harimau itu keluar.
Dalam berbagai laporan yang ditulis tentang pertunjukan ini, antara lain dalam Bakda Mawi Rampog (RM Kartowibowo: Bale Poestaka, 1928), dikisahkan tentang harimau yang akan menjadi panik dan berlari ke sana kemari, hanya untuk berhadapan dengan tombak-tombak yang melukai dan membuatnya tewas.
Namun ada juga cerita lucu tentang harimau yang setelah keluar kotak hanya akan menguap dan tidur enak-enak. Sensasi peristiwa ini adalah bila harimau bisa menemukan celah di antara tombak dan menerobos kerumunan, membuat para penonton lari ketakutan dan banyak di antaranya yang lari naik pohon-tak sadar mereka bahwa bukan masalah besar bagi harimau untuk juga naik ke atas pohon.
Peristiwa apakah ini sebenarnya? Disebutkan bahwa rampog macan adalah upacara yang menjadi simbol pengusiran roh jahat, tentu tanpa harus meminta izin harimau itu apakah sudi menjadi representasi roh jahat atau tidak. Dalam pemahaman ini, agak relevan catatan J. B. Ruzius pada 1906, “…aku mendekat dan menyaksikan bagaimana setiap orang berusaha gagah di hadapan bangkai yang terluka parah. Bahkan ada yang dengan kaki telanjang menendang luka yang makin lebar menganga itu.”
Jelas melalui kacamata orang Belanda yang terkutip dalam Rampog Macan ini (Ananda Moersid: Zaman, 7 Juli 1984), orang Jawa tidak terpandang dengan hormat. Kalau kita bandingkan dengan katarsis sadisme lain, dari gelanggang matador di Spanyol misalnya, yang ada kemungkinan setidaknya pernah didengar orang-orang Belanda masa itu, maka rampog macan ini tentunya tak tergolongkan sebagai perilaku ksatria.
Masalah jadi lain ketika informasi baru masuk, bahwa diam-diam harimau ini dipandang oleh penduduk sebagai representasi penjajah-jadi pembantaian harimau adalah suatu katarsis, atau dalam terminologi kajian budaya lebih tepat disebut perlawanan menghadapi dominasi kekuasaan Kumpeni. Bahwa harimau merupakan representasi penjajah, yang artinya disetarakan dengan roh jahat, disebut berasal dari tradisi pertunjukan sebelumnya, yakni adu banteng dengan macan, yang sering dimenangkan oleh banteng, meski binatang satu ini cukup lamban.
Disebutkan, orang-orang Jawa melakukan identifikasi diri dengan banteng tersebut, dan tanpa disuruh segera mengharimaukan orang-orang Belanda yang tak bisa dilawan itu.
Untuk diketahui, tafsiran politis sejenis pernah diberlakukan kepada lukisan Raden Saleh dari tahun 1848, Antara Hidup dan Mati, yang menggambarkan pertarungan seekor bison melawan dua ekor singa. Lukisan yang musnah terbakar tahun 1931 itu juga pernah ditafsirkan sebagai perlawanan orang Jawa terhadap kolonialisme Belanda.
Tahun lukisan tersebut dibuat betapapun beresonansi dengan masa pertarungan banteng melawan macan, sebelum hanya menjadi pembantaian harimau antara 1890-1900-an, dan akhirnya dilarang secara resmi oleh pemerintah kolonial pada 1905 dengan alasan populasi maupun alasan etis. Catatan Ruzius di atas rupanya adalah kenangan setelah rampog macan tersebut dilarang.
Dengan demikian rupanya wacana rampokan/rampogan telah mendapat pembebanan ideologis yang masih berpeluang mendapat tafsiran baru, apalagi jika itu merupakan tema dominan komik yang terbit abad XXI.
Pembalikan Macan
Dengan modal pemahaman ini, kisah Rampokan Jawa bisa mendapatkan makna yang relevan, karena memang berkisah tentang Johan Knevel yang lahir dan besar di Hindia Belanda, pergi ke Belanda untuk bersekolah, tapi kembali ke Indonesia sebagai anggota militer yang berusaha mengembalikan kolonialisme pada 1948.
Johan digambarkan datang dengan penuh cinta, tentu saja sebagai representasi pandangan romantik, yang berpandangan bahwa Indonesia adalah surga yang harus diselamatkan. Cara Johan mengenang masa lalu, misalnya hubungan dengan pengasuh, yang disebut Ninih, menjelaskan romantisisme itu; tetapi Van Dongen memang membenturkannya dengan berbagai kenyataan-tak- romantik, seperti ketika ia harus melepas sepatu “seperti pribumi”, karena sinisme serdadu Belanda “asli” seperti Jonker yang jadi komandan peletonnya.
Kenyataan-tak- romantik lain tentu adalah sabotase anti-Belanda dari penduduk negeri surgawi itu sendiri. Kisah Johan berlangsung parallel dengan adegan rampokan/rampogan yang sebetulnya belum jelas kaitan langsungnya, kecuali jika suatu makna tertentu mau dihubung-hubungkan- kesulitan yang timbul karena kisah ini masih bersambung ke Rampokan Celebes.
Namun setidaknya mitos yang terbaca dari komik ini sudah menyampaikan, bahwa ada sesuatu yang penting dalam kaitannya dengan rampokan/rampogan tersebut, seperti tergambarkan melalui adegan-adegannya.
Misalnya terdapat adegan ketika harimau itu lepas dari kepungan tombak, dan karena itu sudah semestinyalah ditembak. Bukan saja harimau itu disebut dengan gagah sebagai predator, tetapi juga senapan (produk teknologi asing yang lebih superior daripada tombak Jawa) opas Kumpeni yang siap menembaknya ternyata macet, sehingga harimau itu dengan anggun bisa melesat ke balik semak, dan sebaliknya dari tempat tersembunyi mengintai penuh ancaman.
Dalam adegan ini kita melihat harimau sebagai pihak tertindas yang melakukan perlawanan, pembaca atau setidaknya penggubah komik ini berempati kepada harimau yang semula akan dikorbankan untuk dibantai tersebut. Dengan begitu, jika kita melihatnya secara parallel dengan cerita komik ini, harimau itu tidak teridentifikasikan dengan kolonialisme Belanda, sebaliknya justru sebagai representasi semangat perlawanan penduduk yang mau merdeka.
Belum bisa diketahui bagaimana rampokan/rampogan akan termaknai dalam kisah lanjutannya, yakni Rampokan Celebes, tetapi perbincangan ini kiranya telah menunjuk kemungkinan betapa artikulasi atas wacana yang sama bisa berubah, bahkan berbalik, sebagai suatu aspek yang dipandang dalam fenomena kolonialisme/ pascakolonialism e-bahwa dekolonisasi takbisa menjadi pemutus hubungan dengan masa lalu.
Sebaliknya, wacana pascakolonialisme hanya mendapatkan pembermaknaannya sebagai bagian sekaligus lanjutan dari kolonialisme. Tepatnya, dekolonisasi (termasuk antikolonialisme tentunya) adalah sebagian saja dari pascakolonialisme, yang takjarang terwujudkan sebagai neokolonialisme.
Ini berarti meski kemerdekaan bisa diraih tetapi masa lalu tidak mungkin dihapuskan, bahkan menjadi bagian dari tindak pembermaknaan ke masa depan. Dengan demikian, ejaan rampokan memang tidak perlu dilihat sebagai kesalahan, melainkan konsekuensi logis keberbedaan sudut pandang.
Dalam Bausastra Jawa-Indonesia (S.Prawiroatmodjo: Express & Marfiah, 1957), rampog memang berarti rampok, tetapi adalah rampogan yang berarti “menghujani senjata kepada harimau”- tiada cerita tentang rampokan. Keterpelesetan ini, seperti telah saya sebutkan, sebaiknya diberi makna yang produktif, ketimbang sekadar menyalahkan, karena dari setiap sudut pandang termungkinkan pembenarannya sendiri.
Dalam pengertian tersebut, komik ini sebagai teks memang adalah jalinan, yang bisa saja datang dari segala arah dan saling bertentangan.
SENO GUMIRA AJIDARMA, wartawan.
Catatan untuk diskusi komik Rampokan Jawa, Perpustakaan Kota Malang, toko buku Togamas dan Pustaka Primatama, 1 Maret 2006.
Catatan DJALOE.COM: Naskah ini mula-mula disebarkan Pandu Ganesa di milis komikindonesia, kemudian disebarkan ulang oleh ErwinPrima.
Kata Koentji: alun-alun, blitar, rampokan
[...] Rampogan Pascakolonial [...]
[...] Tapi Peter van Dongen dalam komiknya tidak mendongeng soal tradisi itu belaka. Ia menyusun ceritanya sendiri, kemudian juga bikin serial Rampokan Celebes (Sulawesi). Ihwal komik Peter ini, pengarang Seno Gumira Ajidarma sudah menganalisanya dalam naskah Rampogan Pascakolonial. [...]
Apakah juga cerita tentang badak jawa juga? Kebetulan saya sedang nyari referensi tentang badak jawa. Terima kasih
Mas Setyawan, kebetulan kami belum dapat referensi tentang Badak Jawa. Terima kasih juga, mas. Terus berkarya, ya.
[...] Tapi Peter van Dongen dalam komiknya tidak mendongeng soal tradisi itu belaka. Ia menyusun ceritanya sendiri, kemudian juga bikin serial Rampokan Celebes (Sulawesi). Ihwal komik Peter ini, pengarang Seno Gumira Ajidarma sudah menganalisanya dalam naskah Rampogan Pascakolonial. [...]
[...] itu juga Rampogan Pascakolonial oleh Seno Gumira Ajidarma serta Rampokan Macan dan 200 Tahun Junghuhn. Selamat [...]
hahahahahahaaaaa….. mboten ngertos kulo!
walking2 mawon…..!