<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kaos Tjap Djaloe - Tanda Tjinta dari Blitar &#187; penataran</title>
	<atom:link href="http://djaloe.com/index.php/tag/penataran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://djaloe.com</link>
	<description>Tanda Tjinta dari Blitar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Feb 2010 19:01:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dari Penataran Sampai Telaga Bunga</title>
		<link>http://djaloe.com/index.php/2009/10/dari-penataran-sampai-telaga-bunga/</link>
		<comments>http://djaloe.com/index.php/2009/10/dari-penataran-sampai-telaga-bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 05:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Djaloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tjerita]]></category>
		<category><![CDATA[blitar]]></category>
		<category><![CDATA[penataran]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djaloe.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[DJALOE.COM &#8211; Lama sekali saya tak menyentuh buku lawas itu. Judulnya Handy Guide for Java, Madura, Bali karangan Ananda. Diterbitkan PT Kinta Djakarta tahun 1962, buku setebal 226 halaman ini bersampul asyik sekali. Meski terbit di zaman merdeka, ada sisa-sisa desain grafis zaman Indies, era kolonial, di sampul buku itu.
Dari segi tipografi, ia tak sekadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft" src="http://farm3.static.flickr.com/2568/3988796333_6aa4d17cb1.jpg" alt="" width="375" height="500" />DJALOE.COM</strong> &#8211; Lama sekali saya tak menyentuh buku lawas itu. Judulnya <em>Handy Guide for Java, Madura</em>, <em>Bali</em> karangan Ananda. Diterbitkan PT Kinta Djakarta tahun 1962, buku setebal 226 halaman ini bersampul asyik sekali. Meski terbit di zaman merdeka, ada sisa-sisa desain grafis zaman Indies, era kolonial, di sampul buku itu.</p>
<p>Dari segi tipografi, ia tak sekadar asal menata aksara. Tulisan pada judul tampak sekali meraup seni tata letak aksara a.l.a Eropa. Sedangkan ilustrasi grafisnya menyisakan jejak seni realis.Ada ilustrasi penari Serimpi dari Jawa di sana, kemudian lukisan Karapan Sapi dari Madura dan satu lagi lukisan pura Bali.</p>
<p>Buku yang 47 tahun lalu hanya dibanderol Rp 300, sekarang untuk beli sebatang rokok pun masih kurang, itu secara umum bagus. Pengarangnya melengkapi dengan cuplikan sejarah obyek pariwisata yang direkomendasikan di ketiga pulau itu. Ada pula peta-peta kuno dan foto-foto hitam putih. Ia memang buku panduan pariwisata.</p>
<p>Nah, pada halaman 156, terbaca di sana uraian ihwal Blitar. Saya ketik ulang dan utuh paparannya dalam bahasa Inggris:</p>
<p>Some 35 Km East of Tulungagung, the place of the Indonesian soldiers revolt against the Japanese officers, also the dwelling place of the mother of  Presiden Soekarno.</p>
<p>- <em>Tjandi Panataran</em>, about 10 km North of  Blitar, magnificent remains of early civilization, now a pilgrimage.<br />
- The numerous temples surrounding Blitar, such as the <em>Tjandi Gambar, Tjandi Gambar Wetan, Tjandi Tuban </em>or<em> Domasan, Tjandi Sumbernanas (Brahma)</em>, all scattered in the North upon are the Kelud mountain, whereas in the South are the smaller ones such as <em>Tjandi Gedo, Tjandi Aria Blitar</em> and along the highway Wlingi Malang lie the remains of  <em>Tjandi Selaradja</em>.<br />
- <em>The holy Gong of  Lodojo</em>, dating from empu (=Smith) Parada, about 12 km South of Blitar, as well as the numerous small temples surrounding Lodojo.<br />
- <em>Serang</em>, Southern sea sight, some 60 km South of Blitar.<br />
- <em>Krisik</em>, a nice retreat some 15 km North of  Wlingi, between the Kelud and the Kawi  mountains.<br />
- <em>Telaga Bunga (The Flower Lake)</em>, a swimming-pool within Blitar.</p>
<p>Hanya demikianlah paparan tentang Blitar dalam buku itu. Ia tentu saja kurang deskriptif. Lain kali saya ajak Anda jalan-jalan ke tempat-tempat ciamik itu dengan berusaha sebisa mungkin mengkaji latar sejarahnya tertulisnya, maupun legenda yang masih hidup di masyarakat sekitarnya.</p>
<p>Sebisa mungkin saya lengkapi riset kecil soal testimoni para wisatawan dari zaman lampau, baik dalam kliping surat kabar, majalah dan sejenisnya. <em>Matur sembah nuwun</em>&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djaloe.com/index.php/2009/10/dari-penataran-sampai-telaga-bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepotong Kaos, Sejuta Cerita</title>
		<link>http://djaloe.com/index.php/2009/08/sepotong-kaos-sejuta-cerita/</link>
		<comments>http://djaloe.com/index.php/2009/08/sepotong-kaos-sejuta-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 22:30:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Djaloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tjerita]]></category>
		<category><![CDATA[indies]]></category>
		<category><![CDATA[majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[penataran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djaloe.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[DJALOE.COM - Pada mulanya kecemburuan, lalu ikhtiar. Blitar adalah wilayah tua meski letaknya jauh dari pesisir utara Jawa yang dalam konteks sejarah senantiasa lebih berkembang ketimbang wilayah selatan.
Tapi ada Sungai Brantas yang membelah wilayah ini, memanjang dari timur ke barat. Sungai besar selalu jadi jalur transportasi penting di masa lalu. Ia menghubungkan orang-orang dari wilayah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DJALOE.COM </strong>- Pada mulanya kecemburuan, lalu ikhtiar. Blitar adalah wilayah tua meski letaknya jauh dari pesisir utara Jawa yang dalam konteks sejarah senantiasa lebih berkembang ketimbang wilayah selatan.</p>
<p>Tapi ada Sungai Brantas yang membelah wilayah ini, memanjang dari timur ke barat. Sungai besar selalu jadi jalur transportasi penting di masa lalu. Ia menghubungkan orang-orang dari wilayah pedalaman dengan peradaban di kota-kota pesisir yang seringkali lebih dulu bersentuhan langsung dengan mancanegara. Lalu-lintas gagasan di Blitar, juga peradaban, terbantu oleh sungai.<span id="more-15"></span></p>
<div id="attachment_36" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-36" title="prasasti-balitar" src="http://djaloe.com/blitar/2009/08/prasasti-balitar.jpg" alt="prasasti-balitar" width="250" height="366" /><p class="wp-caption-text">PRASASTI BALITAR I - Kini tersimpan di pendapa Kabupaten Blitar. foto: DJALOE</p></div>
<p>Pada 5 Agustus 2009 lalu, Blitar berulangtahun ke-685. Ini merujuk hasil pelacakan tim sejarahwan tahun 1976 yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Blitar. Disebutkan, titi mangsa 5 Agustus 1324 itu termaktub dalam Prasasti Balitar I yang mencatat Blitar menjadi daerah <em>swatantra</em>.</p>
<p>Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti daerah yang mengurus rumah tangga sendiri. Di India, ada partai politik bernama Partai Swatantra yang didirikan oleh Chakravarti Rajagopalachari pada Agustus 1959. Pada konteks sekarang, <em>swatantra </em>hampir semakna dengan bebas, independen atau otonom.</p>
<p>Kota tua, peradaban tua&#8230;</p>
<p>Tapi masa lalu Blitar itu terasa sangat jauh karena tidak melimpahnya catatan tentang Blitar tempo doeloe. Ini berbeda sama sekali dengan kota-kota tua lainnya di Nusantara. Istilah tempo doeloe dalam naskah ini merujuk pada periode kolonial, bukan era kerajaan-kerajaan besar.</p>
<p>Untuk periode kerajaan, jejak-jejak peradaban tua di Blitar justru masih bertebaran di berbagai tempat. Salah satunya Candi Palah Panataran di Nglegok yang bukan saja tempat pemujaan tapi juga pusat studi intelektual keagamaan.</p>
<div id="attachment_37" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-37" title="raden-wijaya" src="http://djaloe.com/blitar/2009/08/raden-wijaya.jpg" alt="raden-wijaya" width="250" height="525" /><p class="wp-caption-text">RADEN WIJAYA - Semula di Blitar, kini di Museum Nasional, Jakarta. foto: wikipedia</p></div>
<p>Contoh lainnya, Candi Simping di Sumberjati yang menyimpan patung perwujudan Raden Wijaya atau Nararya Sanggramawijaya atau Sri Kertarajasa Jayawardhana, pendiri Majapahit pada 1293 hingga lengser tahun 1309.</p>
<p>Patung elok itu sekarang tersimpan di Museum Nasional atau populer sebagai Museum Gajah di sebelah barat Tugu Monumen Nasional, Jakarta. Jejak peradaban tua tentang Blitar tidak hanya tertuang dalam bebatuan tapi juga buku. Satu-satunya buku yang terkenal adalah <em>Negarakretagama, </em>sebuah <em>magnum opus </em>dari sarjana-cendikiawan-pujangga-wartawan masa Majapahit, Mpu Prapanca.</p>
<p>Kini, salinan kitab itu terpacak di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, disadur oleh Ida I Dewa Gdhe Catra dengan huruf dan bahasa Jawa kuna bentuk kakawin. Kitab ini menceritakan kerajaan Majapahit dari abad XII Masehi sampai abad XIV Masehi. Ada bab yang mengisahkan Hayam Wuruk bersafari ke Candi Palah Panataran pada 1357 Masehi dan 1361 Masehi.</p>
<p>Cerita tentang Blitar era kerajaan mewariskan catatan berharga. Ini tentu sangat menarik bagi pelancong yang melihat batu berukir bukan semata karena keindahan bentuknya tetapi juga karena mengetahui latar ceritanya. Kita sebut saja pelancongan semacam itu sebagai pariwisata intelektual.</p>
<div id="attachment_38" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-38" title="stadswapen-van-blitar" src="http://djaloe.com/blitar/2009/08/stadswapen-van-blitar.jpg" alt="stadswapen-van-blitar" width="250" height="163" /><p class="wp-caption-text">ERA KOLONIAL - Lambang Pemerintah Kotapraja Blitar yang dibentuk Belanda pada 1 April 1906. Semboyannya, Labor Improbus Omnia Vincit. foto: KITLV</p></div>
<p>Kota tua, peradaban tua&#8230;</p>
<p>Tapi begitu masuk periode kolonial, catatan sejarah tentang Blitar seolah tak sebanyak kota-kota lain. Periode tempo doeloe tak seluruhnya nestapa, ada pula yang asyik. Jika dirangkai, kedua kutub itu membentuk semacam mozaik yang indah. Ia bisa menjadi salah satu asupan bergizi untuk pikiran kita.</p>
<p>Masalahnya, memori seputar Blitar tempo doeloe lebih banyak terjaga lewat cerita lisan. Dan, cara itu tak awet. Maka, setidaknya sejak lima tahun silam, kami mulai menekuni studi tentang Blitar tempo doeloe dengan mendatangi berbagai perpustakaan dan museum di berbagai kota.</p>
<p>Kami memeriksa dokumen-dokumen lama, foto-foto tua dan koran-koran tua terbitan Blitar maupun luar Blitar. Pendekatannya bukan dari disiplin ilmu sejarah yang ketat, melainkan dari sisi penikmat sejarah. Kita anggap saja sebagai lawatan atau silaturahmi intelektual.</p>
<div id="attachment_39" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-39" title="europese-woning-blitar" src="http://djaloe.com/blitar/2009/08/europese-woning-blitar.jpg" alt="europese-woning-blitar" width="250" height="175" /><p class="wp-caption-text">ROEMAH INDIES - Milik seorang Eropa di Blitar, berlatar belakang panorama Gunung Kelud, tahun 1915. foto: KITLV </p></div>
<p>Terkadang mendapatkan hasil memuaskan, terkadang sebaliknya. Yang jelas, kami mengerjakannya di luar kehendak dan dana pemerintah daerah. Itu sebabnya, mohon maklum jika masih banyak kekurangan di sana-sini.</p>
<p>Tapi kami ingin menjaga semacam <em>zeitgeist</em>, semangat zaman yang menggejala, di kalangan anak muda di berbagai kota. Yakni, semangat menengok masa lalu bukan berdasarkan &#8220;sejarah yang ditulis oleh jenderal yang menang&#8221;.</p>
<p>Semangat itu terjaga dengan suasana yang sangat menyenangkan, tanpa perlu berkerut kening. Kami biasa menikmati literatur lama sambil mendengarkan musik beraliran paling keras sekalipun. Sebaliknya, kami biasa membaca literatur mutakhir sambil mendengarkan lagu-lagu dari periode Indies, era kolonial.</p>
<p>Tapi bagaimana menghadirkan masa lalu itu supaya terasa dekat?</p>
<p>Pada mulanya kecemburuan, lalu ikhtiar&#8230;</p>
<p>Kecemburuan itu terjawab sudah, terutama sejak terlihat bahwa ternyata Blitar tempo doeloe tak kalah asyik dibanding daerah lain yang sudah industrial pada masanya.</p>
<p>Maka, inilah ikhtiar kami untuk menghadirkan Blitar tempo doeloe dalam sepotong kaos. Berpotong-potong kaos berikutnya dari <strong>Kaos Tjap DJALOE </strong>adalah <strong>tanda tjinta dari Blitar </strong>untuk anda semua. Belajar juga bisa sambil tetap bergaya, sebaliknya bergaya juga bisa tetap sambil belajar. Sepotong kaos, sejuta cerita&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djaloe.com/index.php/2009/08/sepotong-kaos-sejuta-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
