<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kaos Tjap Djaloe - Tanda Tjinta dari Blitar &#187; soekarno</title>
	<atom:link href="http://djaloe.com/index.php/tag/soekarno/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://djaloe.com</link>
	<description>Tanda Tjinta dari Blitar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Feb 2010 19:01:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dari Penataran Sampai Telaga Bunga</title>
		<link>http://djaloe.com/index.php/2009/10/dari-penataran-sampai-telaga-bunga/</link>
		<comments>http://djaloe.com/index.php/2009/10/dari-penataran-sampai-telaga-bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 05:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Djaloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tjerita]]></category>
		<category><![CDATA[blitar]]></category>
		<category><![CDATA[penataran]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djaloe.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[DJALOE.COM &#8211; Lama sekali saya tak menyentuh buku lawas itu. Judulnya Handy Guide for Java, Madura, Bali karangan Ananda. Diterbitkan PT Kinta Djakarta tahun 1962, buku setebal 226 halaman ini bersampul asyik sekali. Meski terbit di zaman merdeka, ada sisa-sisa desain grafis zaman Indies, era kolonial, di sampul buku itu.
Dari segi tipografi, ia tak sekadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft" src="http://farm3.static.flickr.com/2568/3988796333_6aa4d17cb1.jpg" alt="" width="375" height="500" />DJALOE.COM</strong> &#8211; Lama sekali saya tak menyentuh buku lawas itu. Judulnya <em>Handy Guide for Java, Madura</em>, <em>Bali</em> karangan Ananda. Diterbitkan PT Kinta Djakarta tahun 1962, buku setebal 226 halaman ini bersampul asyik sekali. Meski terbit di zaman merdeka, ada sisa-sisa desain grafis zaman Indies, era kolonial, di sampul buku itu.</p>
<p>Dari segi tipografi, ia tak sekadar asal menata aksara. Tulisan pada judul tampak sekali meraup seni tata letak aksara a.l.a Eropa. Sedangkan ilustrasi grafisnya menyisakan jejak seni realis.Ada ilustrasi penari Serimpi dari Jawa di sana, kemudian lukisan Karapan Sapi dari Madura dan satu lagi lukisan pura Bali.</p>
<p>Buku yang 47 tahun lalu hanya dibanderol Rp 300, sekarang untuk beli sebatang rokok pun masih kurang, itu secara umum bagus. Pengarangnya melengkapi dengan cuplikan sejarah obyek pariwisata yang direkomendasikan di ketiga pulau itu. Ada pula peta-peta kuno dan foto-foto hitam putih. Ia memang buku panduan pariwisata.</p>
<p>Nah, pada halaman 156, terbaca di sana uraian ihwal Blitar. Saya ketik ulang dan utuh paparannya dalam bahasa Inggris:</p>
<p>Some 35 Km East of Tulungagung, the place of the Indonesian soldiers revolt against the Japanese officers, also the dwelling place of the mother of  Presiden Soekarno.</p>
<p>- <em>Tjandi Panataran</em>, about 10 km North of  Blitar, magnificent remains of early civilization, now a pilgrimage.<br />
- The numerous temples surrounding Blitar, such as the <em>Tjandi Gambar, Tjandi Gambar Wetan, Tjandi Tuban </em>or<em> Domasan, Tjandi Sumbernanas (Brahma)</em>, all scattered in the North upon are the Kelud mountain, whereas in the South are the smaller ones such as <em>Tjandi Gedo, Tjandi Aria Blitar</em> and along the highway Wlingi Malang lie the remains of  <em>Tjandi Selaradja</em>.<br />
- <em>The holy Gong of  Lodojo</em>, dating from empu (=Smith) Parada, about 12 km South of Blitar, as well as the numerous small temples surrounding Lodojo.<br />
- <em>Serang</em>, Southern sea sight, some 60 km South of Blitar.<br />
- <em>Krisik</em>, a nice retreat some 15 km North of  Wlingi, between the Kelud and the Kawi  mountains.<br />
- <em>Telaga Bunga (The Flower Lake)</em>, a swimming-pool within Blitar.</p>
<p>Hanya demikianlah paparan tentang Blitar dalam buku itu. Ia tentu saja kurang deskriptif. Lain kali saya ajak Anda jalan-jalan ke tempat-tempat ciamik itu dengan berusaha sebisa mungkin mengkaji latar sejarahnya tertulisnya, maupun legenda yang masih hidup di masyarakat sekitarnya.</p>
<p>Sebisa mungkin saya lengkapi riset kecil soal testimoni para wisatawan dari zaman lampau, baik dalam kliping surat kabar, majalah dan sejenisnya. <em>Matur sembah nuwun</em>&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djaloe.com/index.php/2009/10/dari-penataran-sampai-telaga-bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tutur Guntur Soekarno</title>
		<link>http://djaloe.com/index.php/2009/09/tutur-guntur-soekarno/</link>
		<comments>http://djaloe.com/index.php/2009/09/tutur-guntur-soekarno/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 23:53:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Djaloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Tjerita]]></category>
		<category><![CDATA[guntur]]></category>
		<category><![CDATA[megawati]]></category>
		<category><![CDATA[ratna sari dewi]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[sukarno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djaloe.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Intisari, Oktober 1998

Dari semua buku perihal mantan Presiden Soekarno (Blitar 6 Juni 1901 &#8211; Jakarta 21 Juni 1970), mungkin buku Guntur Soekarno ini paling unik dan menarik. Buku kecil Bung Karno Bapakku-Kawanku-Guruku, tulisan putera sulungnya, meski bertutur ringan, anekdotik dan berbahasa populer, buku ini ternyata mampu menguak lebih jauh sisi kehidupan Bung Karno sebagai manusia, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_113" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-113" title="bung-karno-dewi" src="http://djaloe.com/blitar/2009/09/bung-karno-dewi.jpg" alt="bung-karno-dewi" width="250" height="395" /><p class="wp-caption-text">BUNG KARNO dan Ratna Sari Dewi.</p></div>
<p><strong>Intisari, Oktober 1998<br />
</strong><br />
Dari semua buku perihal mantan Presiden Soekarno (Blitar 6 Juni 1901 &#8211; Jakarta 21 Juni 1970), mungkin buku Guntur Soekarno ini paling unik dan menarik. Buku kecil <em>Bung Karno Bapakku-Kawanku-Guruku</em>, tulisan putera sulungnya, meski bertutur ringan, anekdotik dan berbahasa populer, buku ini ternyata mampu menguak lebih jauh sisi kehidupan Bung Karno sebagai manusia, lelaki, pemimpin dan kepala keluarga.</p>
<p>Juga Soekarno sebagai orang biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa, namun &#8220;luar biasa&#8221;, seperti ulasan ini.</p>
<p>Dis, gimana kabarnya Istana? &#8230; Ada hindul-hindul yang nyelundup masuk nggak?</p>
<p>+ Kayakya sih nggak; pada ngeri kali &#8230; gara-gara Mas labrak si Deweh (Deweh maksudnya Dewi) &#8230; Eh, Gun tapinya ya, aku sekarang ini di Istana agak curiga sama satu orang deh &#8230; Aku takut, jangan-jangan Bapak naksir nantinya kan hindul-hindul markindul bisa jadi nambah &#8230;</p>
<p>Ngomong-ngomong cakepnya seberapa sih Dis? Cakep mana sama Dewi?</p>
<p>Kutipan kalimat di atas, merupakan salah satu tulisan Guntur berjudul &#8220;<em>Bung Karno Kontra C.I.A</em>&#8220;. Dalam buku berukuran 11 x 18 cm2 setebal 256 halaman, berisi sekitar 25 judul kecil serta puluhan foto eksklusif. Guntur menulis dengan gaya &#8220;aku&#8221; bertutur, serta beberan kalimat langsung, serta anotasi, misalnya &#8220;Waktu: 1962-1964, Tempat: Istana Merdeka, Yang Hadir: Bung Karno, Megawati, ajudan, aku.&#8221;</p>
<p>Nilai utama buku eksklusif terbitan PT. Delta &#8211; Rohita ini, terbaca dalam tuturan Guntur perihal hubungan intim antarwarga keluarga Bung Karno. Siapa yang tahu kalau Megawati Soekarnoputri, ternyata bernama panggilan Gadis atau Adis. Ibu Fatmawati sebagai first lady dan ibu lima anak, masih sering berkata-kata dengan dialek bahasa Melayu Bengkulu.</p>
<div id="attachment_114" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-114" title="mega-sukarno-guntur" src="http://djaloe.com/blitar/2009/09/mega-sukarno-guntur.jpg" alt="mega-sukarno-guntur" width="250" height="188" /><p class="wp-caption-text">BUNG KARNO dan anak-anak.</p></div>
<p>Guntur yang dipanggil &#8220;Gun&#8221; sama Mega, atau bernama akrab Mas Tok, ternyata dipanggil &#8220;Jang&#8221; alias Bujang oleh sang bunda. Uniknya, keluarga Soekarno ini ada kata sandi khusus untuk &#8220;buang air besar&#8221;, yakni &#8220;o-ok&#8221;.</p>
<p>Kalau &#8220;hindul-hindul markindul&#8221;, merupakan kata sandi untuk isteri muda Soekarno, terutama gelar untuk Deweh alias Ratna Dewi yang hindul markindul asal Jepangnya Bung Karno. Hampir tiap peristiwa, Guntur berupaya mengenang kembali ingatannya, terutama masalah kutipan langsung pembicaraan sang bapak.</p>
<p>Sebagai pemimpin besar bangsa Indonesia, Bung Karno terbaca amat piawai berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing, juga berbahasa daerah. Selain berbahasa Jawa, Soekarno senang memakai bahasa Sunda untuk berbicara dan mendamprat staf rumah tangga istana.</p>
<p>Misalnya dalam tulisan &#8220;Saro&#8217;i The Great&#8221;, ada kata-kata Bung Karno kepada Saro&#8217;i &#8211; pengemudi keluarga Soekarno: &#8220;Nya! Geus dimaafkeun, umpama keur ngajar Guntur nubruk taneman Bapak jeung tembok istana make mobil! (Ya, sudah dimaafkan, misalnya waktu mengajar Guntur nabrak tanaman Bapak dan tembok istana)&#8221;.</p>
<p>Kentuti PBB Bung Karno yang berhobi berat makan durian, tapi tak suka makan petai dan jengkol, karena kalau &#8220;ki&#8217;ih&#8221; (kencing-red) akan berbau. Namun Ir Soekarno suka lagu klasik Italia. Khususnya kalau beranjangsana ke Italia, Soekarno selaku kepala negara RI tak segan ikut mementang suaranya melagukan &#8220;O Sole Mio&#8221;, bersama pelayan hotel. Sampai-sampai Guntur pun menjuluki bapaknya The Great Caruso.</p>
<div id="attachment_115" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-115" title="fatwati-guntur-sukarno" src="http://djaloe.com/blitar/2009/09/fatwati-guntur-sukarno.jpg" alt="fatwati-guntur-sukarno" width="250" height="186" /><p class="wp-caption-text">FATMAWATI, Guntur dan Bung Karno, 11 Maret 1946. Foto:Bettmann/CORBIS</p></div>
<p>Sebagai putra sulung, Guntur rupanya paling banyak sering mendapat kesempatan belajar langsung dari ayahnya. Apalagi selewatnya masa akil baliknya Guntur, si anak pertama ini tak cuma diindoktrinasikan soal paham negara RI yang anti berat sama neokolonialisme dan imperialisme, tapi juga soal &#8220;isme-isme&#8221; lainnya, termasuk wanita cantik.</p>
<p>Misalnya sekali waktu, Bung Karno berdiskusi soal wanita cantik di obyek lukisannya:</p>
<div id="attachment_116" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-116" title="sepotong-kain-merah" src="http://djaloe.com/blitar/2009/09/sepotong-kain-merah.jpg" alt="sepotong-kain-merah" width="250" height="398" /><p class="wp-caption-text">SEPOTONG kain merah, lukisan koleksi Bung Karno.</p></div>
<p>+ &#8230; perhatikan sorot matanya &#8230; belum lagi bentuk hidung dan bibirnya &#8230; apa pernah lihat bentuk yang secantik ini &#8230; potongannya bagaimana? Ini ia punya bentuk tubuh maksudku &#8230; Ini figur puteri Solo asli! Pernah punya pacar orang Solo? &#8230; Kalau mau cari pacar orang Solo, figurnya harus seperti ini &#8230; baru namanya cantik &#8230;</p>
<p>Memangnya dia siapa sih Pak?</p>
<p>+ Ho, ho rahasia! &#8230; Pendek kata cantik tidak? &#8230; boleh bandingkan dengan pacar-pacarmu, kalau memang kau punya!</p>
<p>Si Mas Tok ini, menuturkan pula bagaimana dirinya tak jarang menjadi sekretaris istimewa, atau pelayan perpustakaan kepresidenan. terutama di saat Soekarno sedang mepersiapkan pidato kenegaraannya. Sang Bapak selalu memamnggil Mas Tok, seraya menyebut nama penulis atau judul buku, hingga Guntur harus pontang-panting menyiapkan buku referensi bagi bapak tercintanya.</p>
<p>Meja makan merupakan arena paling akrab untuk keluarga besar Soekarno. Seusai makan, keluarga presiden ini biadsanya melahap bebuahan segar dan manis, terutama di musim rambutan dan durian. Untuk buah berduri ini, Guntur mengisahkan betapa bapaknya pernah mengajarkan teori memilih durian.</p>
<p>+ Jadi Bapak ulangi! Satu! &#8230; periksa tangkainya. Dua! &#8230; lihat duri-durinya. Tiga! &#8230; cium baunya dari sebelah pantat. Kalau ketiga-tiganya baik itu tandanya durennya jempolan! Nanti kau bisa buktikan setelah duren-durennya ini Bapak pilih terlebih dahulu &#8230;</p>
<p>Yaaa Pak! Kok durennya bosooookk! Duiiillaaahh! Gimana sih Bapak milihnya?<br />
+ Ndak tahulah! Sekali ini Bapak meleset pilih duren! Uh &#8230; ini duren mungkin jenis baru &#8230;<br />
Emangnya jenis apa Pak?<br />
+ Jenis duren &#8230; kontra revolusi!</p>
<p>Tampak sekali, Presiden pertama RI yang di dunia internasional disegani, karena sikap dan ucapannya yang keras soal kolonialisme dan imperialisme, serta dinilai sebagai pemimpin besar yang gandrung akan persatuan dan kesatuan, serta getol menanamkan sikap patriotisme dan nasionalisme bagi rakyatnya.</p>
<p>Guntur sebagai &#8220;sparring partner&#8221; Bung Karno, tentu tak lepas dari persoalan beginian. Meski di hadapan anaknya, Soekarno memiliki cara dan gaya diskusi tersendiri. Tak jarang Bung Karno meledakkan emosinya, sambil melampiaskan juga perasaannya yang tak mungkin diumbar di muka umum. Sekali waktu (dalam judul &#8220;Penyelundup Senjata&#8221;), Bung Karno mengisahkan kepada Guntur, soal peranan RI dalam membantu kemerdekaan Aljazair, seusai acara makan duren.</p>
<p>+ Eh aku mau kasih tahu, kalau hari Sabtu jangan makan duren. Dus malam Minggu; pasti pacarmu nggak mau kau cium, karena kau bau duren &#8230; ngerti?! Kok Bapak kelihatannya seneng bener? Ada apa sih?</p>
<p>Lalu Soekarno menuturkan peranan RI, sambil menyebut berita ini &#8220;top secret&#8221; kelas A. Katanya, RI bukan cuma memberi dukungan diplomatik terhadap Aljazair, malah pernah membantu dengan menyelundupkan senapan.</p>
<p>Kalau waktu itu misalnya ketahuan gimana Pak? Dunia kan geger!<br />
+ Ya biar saja geger, aku ndak rewes (ndak rewes = ndak peduli) &#8230; Aku tidak feeerduliii! Buat Bapak kalau urusan membantu kemerdekaan satu bangsa, hanya satu yang bisa melarang &#8230; Tuhan! Lain tidak! Tahu kau! (Bapak melotot kepadaku sambil memukul-mukul meja dengan tinjunya) &#8230; Ayoooo &#8230; mau apa! PBB mau kutak-kutik? Mau tahu akan aku apakan PBB? Tahu ndaaakk?! &#8230; PBB Bapak akan beginikan &#8230;.</p>
<p>Tiba-tiba dari bawah meja terdengar suara &#8230; duuuut &#8230; duuut &#8230; breeettt!</p>
<p>Hiih! &#8230; Bapak kentut ya!<br />
+ Ya! &#8230; aku akan kentuti PBB kalau mereka berani turut campur urusan orang merebut kemerdekaan!!</p>
<p><strong>Granat Maut </strong></p>
<p>Dalam tuturan Guntur, ada peristiwa besar yang dituturkan begitu hangat dan penuh rasa kemanusiaan. Tahun 1957 ada peristiwa besar yangdisebut Peristiwa Cikini 1957. Saat itu, Soekarno yang Presiden RI, nyaris terenggut maut akibat ledakan granat.</p>
<p>Guntur menuturkan tanpa menghujat oknum pelempar granat. Si Mas Tok juga tidak berapi-api dan sensasional, mengisahkan pengalaman buruknya. Bahkan tuturannya terasa intim.</p>
<p>Yayasan Perguruan Cikini tempat di mana aku bersekolah mengadakan perayaan hari ulang tahunnya (lupa yang ke berapa) &#8230; orangtua murid diundang untuk menghadirinya, termasuk Bapakku &#8230;</p>
<p>Pak, Bapak jadi datang ke bazaar di sekolahku nggak?<br />
+ Yo &#8230; Insya Allah. Apa acaranya di sana? &#8230; Kau punya lukisan dipamerkan ndak?</p>
<p>Waktu pergi ke bazaar, Bapak mengendarai mobil kepresidenan Chrysler Crown Imperial; Indonesia 1; hadiah dari Raja Saudi Arabia: Ibnu Saud, dengan iringan konvoi kepresidenan yang terdiri dari sepeda motor polisi lalu lintas; jeep pengawal dari Corps Polisi Militer, jeep pengawal dari Detasemen Kawal Pribadi Presiden dan mobil-mobil rombongan lainnya.</p>
<p>Bapak langsung melihat-lihat stand di bazaar &#8230; Aku yang kurang tertarik pada urusan pamer memamer &#8230; langsung ngacir mencari stand-stand yang berisi permainan ketangkasan &#8230; Kak Ngatijo yaitu kakak pengawal yang bertugas mengawalku saat itu, benar-benar kewalahan dalam mendapingiku &#8230; Dari atas aku melihat rombongan Bapak yang sedang bersiap-siap untuk pulang &#8230; Ketika aku sedang menghirup sebotol limun kudengar derum suara motor dari pengawal &#8230; tak lama kemudian tiba-tiba kudengar ledakan yang cukup dahsyat &#8230; Bledeeeerrrr!</p>
<p>Sekilas aku berfikir, akh ini tentunya suara knalpot motor dari kakak-kakak polisi &#8230; maklum waktu itu motor-motor yang digunakan adalah Harley Davidson model &#8220;tuek&#8221;! Tetapi beberapa detik kemudian &#8230; Bledeeerr! &#8230; Bledeeerr! Terdengar 3-4 kali ledakan lagi.</p>
<p>Kemudian suasana benar-benar jadi panik dan semrawut sungsang-sumbel &#8230; setelah aku dapat menguasai lagi rasa takutku dan emosi &#8230; cepat-cepat aku melompat masuk di antara sela-sela tumpukan peti botol limun di kolong meja &#8230;<br />
Kak &#8230; saya di sini!<br />
+ Aduuuh! Kakak cari kemana-mana jebulnya di sini. Ayo Mas, cepat pulang! Cepat pulang.<br />
Bapak di mana Kak?<br />
+ Belum tahu juga Mas! Tugas Kakak menyelamatkan Mas dulu ke rumah.<br />
Aku &#8220;diseret&#8221; secepat kilat &#8230; ke mobilku B-5353.<br />
+ Ya Allah &#8230;Hayo buruan masuk mobil, kita berangkat dah!<br />
Eh Pak Ro&#8217;i nggak apa-apa?<br />
+ Alhamdulilah Mas! Gatotkaca mah nggak mempan pelor! &#8230; Mas lebih baik tiduran saja di belakang &#8230; tiarap saja dah; nggak usah lihat jalanan. Biar pak Ro&#8217;i geber ini mobil, biar larinya kayak setaaann!</p>
<p>Sesampainya di Istana &#8230; begitu turun dari mobil, aku cepat ngibrit ke kamar Bapak &#8230; ternyata Bapak tidak ada di situ &#8230; jangan-jangan Bapak tewas kena granat dan aku sekarang jadi anak yatim &#8230;tiba-tiba dari kejauhan seseorang berteriak &#8220;Saiinnn &#8230; Saiinnn &#8230; kadieu (ke mari)</p>
<p>Lho itu kan suara Bapak!</p>
<p>Secepat kilat aku kabur ke kamar Bapak ,,, di tengah jalan bertubrukan dengan Pak Saiin &#8230; bummm! Pak Saiin yang sudah reyot itu (umurnya 70 tahunan) terkapar di lantai &#8230;<br />
Bapak nggak apa-apa?<br />
+ Alhamdulillah. Tuhan masih melindungi Bapak &#8230; Syukur, Adis gimana?<br />
Apa Bapak kena?<br />
+ Ini apa (sambil menunjuk lukanya di lengan) &#8230; Tapi bukan kena grabat! Kena kawat duri! Ho ho ho &#8230; Waktu mbrobos pager rumah di depan sekolahmu, aku kecantol kawat durinya. Bapak disembunyikan oleh Kak Dijo dan Oding &#8230; mereka melindungi Bapak dengan badannya &#8230; Oding ternyata kena granat di pahanya &#8230; Bapak kembali ke Istana dengan naik mobil lain, karena ternyata Chrysler yang dari Pak Ibnu Saud kena granat dan mogok.</p>
<p>Bapak takut nggak?<br />
+ Bapak pasrah terserah kehendak Tuhan &#8230; kasihan mereka-mereka yang tak berdosa ikut jadi korban &#8230; sudahlah, hayo Tok, Bapak musti siap-siap untuk &#8230; pers conference &#8230; Kapan-kapam kau tengok Kak Ngatijono, sampaikan terima kasih dari Bapak.</p>
<p><strong>Kencing Sembarangan </strong></p>
<p>Beberapa pengalaman Guntur dari balik layar kepresidenan Soekarno, amatlah menarik dan mengundang senyum. Bung Karno di saatnya jaya, selain dianggap banyak pihak sebagai &#8220;super hero&#8221;, juga disegani sebagai macan podium.</p>
<p>Dari beberapa judul kisah Guntur dalam buku saku ini, Soekarno tergambar sebagai manusia penuh gairah, malah kadang-kadang juga berakal nakal.<br />
Suatu saat (Guntur menulis &#8220;persisnya lupa&#8221;), Bung Karno keasyikan mengorek kuku kakinya, hingga ujung jarinya terkelupas dan berdarah. Lukanya dianggap tak serius, dibiarkan saja tanpa pengobatan.</p>
<div id="attachment_117" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-117" title="sukarno-nikita-khrushchev" src="http://djaloe.com/blitar/2009/09/sukarno-nikita-khrushchev.jpg" alt="sukarno-nikita-khrushchev" width="250" height="227" /><p class="wp-caption-text">BUNG KARNO dan Nikita Khrushchev di Bali, Februari 1960. Foto: LIFE/John Dominis</p></div>
<p>Beberapa hari kemudian, luka lecet itu terasa &#8220;senut-senut&#8221; infeksi. Makin lama makin bengkak, akibatnya Bung Karno sulit berjalan normal. Langkahnya harus berjingkat-jingkat. Yang pasti pada saat itu tidak seorang pun berani tertawa, termasuk aku sendiri!</p>
<p>Pak jalannya kenapa pincang?<br />
+ Jempolnya bengkak &#8230; Bapak ingin segera sembuh. Kau tahu empat hari lagi, aku harus terima surat kepercayaan duta besar asing!</p>
<p>Pada suatu sore &#8230; Pak Adung menemui aku.<br />
+ Mas, Pak Adung mau pinjam gunting, ada? Buat bikin lobang!<br />
Mangga wae (silakan saja) &#8230; buat apa sih Pak Adung?<br />
+ Buat ngebolongin karet &#8230; Bapak yang suruh.<br />
Karet buat apa?<br />
+ Eh &#8230; itu Mas, sepatu tenis.</p>
<p>&#8230; Waktu saat penerimaan Dubes akan dimulai, aku mengintip dari kamar untuk melihat Bapak memakai sepatu kepresidennya &#8230;. keluarlah Presiden R.I. dengan gagah dan tegapnya mengenakan kopiah hitam yang khas, jas pantalon kebesaran plus sederetan tanda-tanda jasa &#8230; tidak ketinggalan stock komando kepresidenan &#8230; dan yang paling bawah &#8230; sepatu tenis yang salah satu ujungnya bolong di mana tersembul ibu jari Bapak yang dibalut perban!</p>
<p>Tuturan Guntur soal bapaknya, makin terasa intim dan di luar dugaan umum. Sebab sosok Presiden Soekarno itu kharismatik sebagai proklamator dan &#8220;founding father&#8221;-nya bangsa Indonesia, ternyata dalam kehidupan biasanya sering terjadi hal-hal biasa, namun luar biasa bagi orang biasa.</p>
<p>Sebagai contoh, siapa menduga, kalau Bung Karno yang perlente, tahu etiket dan terbiasa bergaul di kalangan atas, ternyata berperilaku macam orang kebanyakan. Misalnya contoh di bawah ini.</p>
<p>SEMAK-SEMAK ISTANA MERDEKA &#8211; Waktu: 1964 &#8211; 1965. Tempat: Ruang duduk di teras belakang Istana Merdeka dan ruang duduk beranda depan kamar Bapak. Yang hadir: Bung Karno, beberapa tamu Dubes-dubes asing, beberapa Menteri Kabinet &#8230; dan aku.</p>
<p>&#8230; Aku sedang berada di Jakarta dalam rangka mudik dari Bandung tempat kuliah (Guntur kuliah di Jurusan Mesin ITB &#8211; red) &#8230; aku duduk di korsi panjang dari rotan tempat Bapak selalu duduk baca koran &#8230; duduk di situ, kita bisa melihat taman yang membentang di belakang Istana Merdeka &#8230; di ujung tangga terdapat serumpun semak pohon ampelas-ampelasan &#8230; tiba-tiba dari ujung tangga kulihat Bapak turun dari beranda dan langsung masuk ke dalam semak tadi.</p>
<p>Kemudian tak lamanya Bapak keluar dari dalam semak dan naik tangga pergi ke beranda lagi. Eh, tak berapa lama lagi-lagi Bapak ke dalam semak, bahkan sekarang kelihatan tergopoh-gopoh turunnya dari tangga &#8230; selesai mandi aku segera berpakaian dan buru-buru kembali duduk di beranda depan kamar Bapak, karena ingin kulihat apakah Bapak masih saja mundar-mandir masuk semak pohon ampelas lagi.</p>
<p>Astaga! Ternyata masih demikian, begitu aku sampai di beranda aku lihat Bapak baru saja keluar dari dalam semak dan naik tangga &#8230; aku jadi penasaran dibuatnya!</p>
<p>Pak &#8230; akun mau tanya.<br />
+ Ya &#8230; soal apa?<br />
Aku perhatikan Bapak kok mundar-mandir saja masuk semak &#8230; rada aneh.<br />
+ Ho ho &#8230; kau mau tahu? Aku kencing di situ!<br />
Kencinngg?<br />
+ Yaaa. nguyuh! Ha ha ha (Bapak terbahak dan ngeloyor ke kamar)</p>
<p>Bapak memilih semak daripada WC Istana yang indah, yaitu karena jarak antara beranda belakang tempat penerimaan tamu ke WC tamu yang tersedia sangat jauh, kurang lebih 40 m &#8230; jarak ke WC kamar mandi Bapak lebih jauh lagi, kurang lebih 50 m.</p>
<p>Jarak ke WC kamar mandi adik-adikku dari beranda lebih jauh lagi, yaitu 70 m. Jadi logis kalau yang dipilih semak-semak dekat tangga, karena jaraknya hanya 5 m saja!</p>
<p>&#8230; Ketika aku sudah kembali lagiu ke Bandung, dari adikku Mega aku mendapat kabar bahwa sekarang bukan hanya Bapak saja yang mempergunakan &#8220;W.C.&#8221; istimewa tadi, tapi juga para tamu-tamu dan para dubes-dubes asing!</p>
<p>Bung Karno diam-dam suka kencing sembarangan. Tapi jarang yang tahu, kalau Soekarno penyayang binatang. Sebab di lingkungan istana, menurut Guntur tak ada burung peliharaan dalam sangkar.</p>
<p>Sedangkan ikan hias memang ada dan hidup dalam akuarium. Menurut Guntur: &#8230; ikan-ikan dalam akuarium yang mendapatkan pelayanan dan servis luar biasa dari Bapak. Barang kali maksud Bapak agar ikan-ikan itu &#8220;betah&#8221; tinggal di dalam rumah barunya dan agar tak &#8220;kekurangan&#8221; suatu apa.</p>
<p>Suatu hari (tertulis &#8220;antara tahun 1958-1959), Kepala RT Istana Cipanas, Oom Burger, seorang WN Swiss menghadiahkan Soekarno sepasang kambing. Guntur menulis, kalau tidak salah namanya &#8220;Si Manis&#8221; dan &#8220;Si Bandot&#8221;. Makin lama, kedua kambing ini makin kurang besar dan kurang ajar. Hingga Soekarno harus memperkerjakan gembala kambing, supaya &#8220;embek-embek&#8221; itu tidak melahap tanaman hias di halaman istana.</p>
<p>Si Bandot dan partner tambah-tambah saja merajalela merusak tanaman &#8230; proyek officer dan pengasuh kambing kehabisan akal buat menjinakkan si Bandot dan si Manis, sehingga menghadaplah mereka-mereka itu tadi pada Bapak &#8230;</p>
<p>Kami boleh usul apa Bandot dan Manis boleh kami ikat saja, agar jangan berkeliaran ke sana ke mari?<br />
+ Ojo (jangan)!<br />
Lha &#8230; kados pundi Pak? Menapa mboten becik dipun sate kemawon Pak? Sampun lemu-lemu (Apa tidak lebih baik disate saja Pak, sudah gemuk-gemuk).?<br />
+ Gendeng kowe (Gila kamu).</p>
<p>Untuk beberapa saat, si Bandot dan Manis tidak lagi menimbulkan soal yang serius, paling-paling hanya mebuat Musli pengasuhnya lari pontang-panting mencegah mereka makan atau merusak tanaman &#8230; Persoalan timbul lagi, ketika si Bandot memasuki masa dewasanya &#8230; setiap benda ia seruduk, mobil parkir ditanduknya, pohon besar diterjang &#8230; yang paling lucu bila kita &#8230; disangkanya si Manis (Saat itu Bandot memang sedang hot-hotnya fall in love dengan Manis) &#8230; mbeeek! Si Bandot melompat menyeruduk!</p>
<p>Si Bandot menghujam salah satu dari 10 pot antik yang berderet rapi di tangga, hingga berantakan. Akibatnya si bandot berhenti mengejar dan berdiri termanggu-manggu karena kepalanya puyeng &#8230; akibat soal ini terpaksalah proyek officer dan pengasuh para kambing menghadap Bapak.</p>
<p>Pak kulo bade laporan (Pak saya mau laporan). Pot antik yang di tangga penjagaan depan, pecah diseruduk si Bandot.<br />
Dengan wajah merah padam, Bapak melirik kepadaku dan berkata:<br />
+ Tok, kau setuju kalau si Bandot kita sembelih saja buat sate?</p>
<p><strong>Jenderal Perang </strong></p>
<p>Masa kecil Guntur sebagai anak presiden, serta rumah tinggalnya di dalam kompleks istana, sungguh memberikan dunia tersendiri. Guntur menuturkan, dirinya sehari-hari bermain dengan anak-anak karyawan istana, tak peduli anak itu putranya pengemudi, koki, ataupun pelayan istana. Begitu juga saat Guntur memasuki usia remaja, teman bermainnya bertambah dan terutama anggota DKP (Detasemen Kawal Pribadi).</p>
<p>Makanya tidak janggal kalau Guntur senang main perang-perangan, memakai helm asli, juga beranggotakan tentara asli. Sekali waktu Guntur mengajak &#8220;kakak-kakak&#8221; (panggilan khususnya terhadap anggota DKP) main perang-perangan. Saking asyiknya, Guntur hampior saja bikin setori panjang, seperti tuturannya berikut ini.</p>
<p>Sekitar tahun 1957-58, Guntur meminta &#8220;kakak-kakak&#8221; DKP agar menyebutnya jenderal, bukan Mas Tok (begitu pangilan Guntur). Lalu jenderal ini mengajak prajuritnya main perang-perangan. Aturannya sederhana. Barang siapa yang ketahuan atau kelihatan, akan &#8220;didor&#8221; lebuh dahulu dan harus keluar gelanggang, karena tertembak &#8220;mati&#8221;. Tetapi jarak &#8220;ngedor&#8221; dan &#8220;didor&#8221; itu, tak boleh kurang dari 20 meter. Prajurit yang terlibat, sekitar 10 anggota DKP asal kesatuan Brimob. Gunyur memimpin pasukan I, sedangkan pasukan II dipimpin tentara asli.</p>
<p>Medan palagan ini di halaman luas, antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Tiap pasukan segera mempersiapkan dirinya, termasuk &#8220;Jenderal Bledek&#8221; Mas Tok Guntur Sukarno yang sudah mempersenjatai dirinya dengan pistol-pistolan, serta logistik buah segar tulen. Guntur pun melengkapi pasukannya dengan agen intelijen, Musli, gembala kambing istana. Perang pun dimulai, dipimpin Guntur yang mengenakan topi baja tentara asli.</p>
<p>Sementara perang lagi memanas dan asyik, tiba-tiba komandan jaga istana berlari ke arah Guntur.</p>
<p>+ Mas Tok! Perangnya disetop dulu Mas. Cease fire, cease fire!<br />
Emangnya kenapa Kak?<br />
+ Anu Mas &#8230; perwira piket telepon kasih tahu katanya &#8230; dari KMKB (semacam Kodam sekarang) menanyakan di istana ada apa, kok waktu KMKB patroli, mereka melihat pasukan pengawal mengambil posisi tempur di depan Istana Merdeka! Makanya lebih baik perang-perangannya distop dulu! Nanti Jakarta bisa gawat!<br />
Busyeeet! Mati gua! Kaaaak, hayo perangnya bubaaar!<br />
Waktu Bapak datang dari Bogor, aku dipanggilnya untuk ditanyai soal perang-perangan tadi.<br />
+ Heh &#8230; Tok, aku dapat laporan kau bikin geger petugas keamanan Jakarta ya!? &#8230; keadaan gawat begini ndak usah main perang-perang dulu; nanti kalau keadaan sudah normal saja &#8230; Kau jadi jenderal ya waktu perang-perangan?<br />
Gitu deh<br />
+ Ini Bapak punya buku bagus tentang jenderal. Bacalah! Dia adalah salah satu jenderal favorit Bapak &#8230; (Kulihat ternyata buku tadi tentang seorang jenderal berdarah Indian dari U.S. Cavalery yang terkenal, yaitu William &#8220;Tacum&#8221; Tacumseh Sherman).</p>
<p>Sebagai anak presiden, jamak sekali kalau Guntur &#8220;berhak&#8221; merasakan fasilitas Bapaknya, tanpa berlebihan. Misalnya Guntur terus terang mengisahkan betapa dirinya belajar &#8220;nyupir&#8221; mobil, menggunakan mobil negara dengan guru pengemudi yang digaji negara.</p>
<p>Sekiranya aku minta izin pun, aku toh tidak akan diizinkannya, mengingat umurku yang  masihmuda (12 tahun) &#8230; tetapi akibat dorongan Pak Saro&#8217;i, akhirnya aku berani-beranikan juga.</p>
<p>+ Mas, kalau Mas kepengen nyetir, hayolah pak Ro&#8217;i ajarin!<br />
Nanti kalau ketahuan, Bapak marah!<br />
+ Kite belajarnya kalu Bapak lagi ke Bogor, jangandienye ade di sini &#8230; wah bahaye!<br />
Kaki saya belon sampe buat injak pedal &#8230; saya masih kependekan buast ngeliat ke depan.<br />
+ Itu mah gampang, ganjel pake bantal &#8230; beres!</p>
<p>Sejak itu, setiap Bung Karno ke Bogor atau ke Istana Cipanas, Guntur bersekolah &#8220;nyetir&#8221; dengan guru istimewanya, Pak Saro&#8217;i &#8211; pengemudi yang melayani terus hingga Guntur lulus SLA. Lama kelamaan, Guntur makin jago mengemudi mobil istana.</p>
<p>Pak Ro&#8217;i pun meningkatkan pelajarannya. Misalnya Guntur harus mengebut mobil Chrysler 1955, 6 silinder, B 5353 warna biru laut dengan kecepatan 50 km per jam, namun tak boleh injak rem, meski di tikungan sekalipun.<br />
Hadiah Ciuman Saat Guntur dewasa, menjelang kuliah di ITB.</p>
<p>Pemuda ini mendapat mobil VW sport Kharman Ghia. Lama kelamaan Bung Karno mendapat kabar, kalau Guntur senang ngebut kendaraannya. Sekali waktu, sekitar tahun 1962, Bung Karno menegur Menteri Chaerul Saleh, karena dianggap suka bersama Guntur mengebut mobil keliling Jakarta.</p>
<p>+ Heeeh Rul Rul! Dia ini nyetir gila-gilaan lantaran kau! Begrijp je (mengerti kau)! Dikira aku tidak tahu? &#8230; kau dan Guntur suka balap-balapan di daerah Kebayoran &#8230; tukang-tukang becak di daerah Cikini semuanya lari ketakutan diserempet, kalau melihat mobil Kharman Ghia merah kepunyaan kalian! Kau ini memang terlalu Rul! Jij itu menteriku, jadi jangan ngros-boy!</p>
<p>Begitulah kira-kira sikap Bung Karno, kalau menegur anaknya. Bagi Guntur, Soekarno sebagai bapaknya, memang figur lelaki yang disegani. Waktu Guntur lulus SMA tahun 1962, dia memiliki permintaan &#8220;kado&#8221; yang tak masuk akal.</p>
<p>Dirinya tak berani mengucapkan langsung ke Bung Karno. Guntur lalu meminta jasa Ibu Fat, agar mengutarakan maksudnya.</p>
<p>Bu, apa sudah bilang sama Bapak apa yang aku minta? Kapan Ibu ke istana? (Ibuku saat itu sudah keluar dari istana dan tinggal di Jl. Sriwijaya Kebayoran).<br />
+ Luso lalu (lusa lalu, dialek Bengkulu).<br />
Marah nggak?<br />
+ Kalo nyo berang idaklah salah. Bujanglah yang salah, minta yang idak-idak. Hapo &#8230; hapo kau ini Jang! (Kalau dia marah tidak salah, Bujanglah yang salah, minta yang tidak-tidak. Apa-apaan kau ini Jang!)</p>
<p>Guntur akhirnya memberanikan diri, menghadap bapaknya.</p>
<p>Pak!<br />
+ Heh &#8230; kau. Selamat ya kau lulus. Berapa angkanya? Bagus apa jelek? &#8230; Ibu sudah bicara sama Bapak perkara keinginanmu. Bapak ndak bisa kasih izin buat itu. Bagaimanapun juga kau adalah anak Presiden R.I. Mintalah yang lain &#8230;</p>
<p>Peraturan protokoler negara tak mengizinkan &#8230; Bapak sudah bicara dengan Sabur dan Mangil soal ini.</p>
<p>Guntur yang kesal, segera mencari Letkol Sabur &#8211; ajudan Bung Karno. Mereka berdiskusi soal &#8220;hadiah&#8221; lulus SMA itu. Pembicaraan tak menemui titik akhir.</p>
<p>Guntur yang semakin kesal, segera pergi ke mobilnya, seraya berteriak: &#8220;Pokoknya saya nggak mau dikawal lagiiii!&#8221;</p>
<p>Rupanya Guntur dan adik-adiknya, sebagai anak presiden yang sejak kecil terus-terusan dikawal, sudah merasa bosan dan menganggap diawasi terlalu ketat. Merasa dirinya sudah lulus SMA, Guntur meminta satu hadiah &#8230;. tidak dikawal!<br />
Meski kecewa, Guntur masih berusaha memohon hal ini ke Soekarno. Akhirnya ia mendatangi lagi bapaknya.</p>
<p>Pak, soal pengawalan itu apa masih tetap tidak boleh dihilangkan?<br />
+ Kan Bapak sudah bilang itu tidak bisa. Mintalah hadiah yang lain! heh, ke mana kau mau teruskan sekolahmu?<br />
Terserah yang mana yang keterima &#8230; Akademi Angkatan Laut sama ITB Bandung.<br />
+ &#8230; Semuanya bagus &#8230; Eh kenalkan Bapak sama pacarmu, aku ingin tahu cantik ndak &#8230; mengapa, dia minta putus? Kalian masih cinta monyet &#8230; Huah huah huah, alasan &#8230; kenapa kau tidak cium dia? Ho ho, kau terlalu! Kau jangan bikin malu aku!<br />
Ya &#8230; Pak. Tapi gimana aku mau cium dia di depan pengawal!<br />
+ Ya memang saru ciuman ditonton orang (saru = tak sopan). Ya sudah begini saja, Bapak kasih kau hadiah lulus ujian &#8230; mulai bulan depan kau boleh ngeluyur tanpa pengawal! Nanti Bapak kasih tahu Sabur dan Mangil<br />
Terima kasih Pak ! (Sambil kabur keluar kamar).<br />
+ Hey &#8230; bulan depan lapor soal cium tadi!<br />
Ya &#8230; Pak!</p>
<p><strong>Inspeksi Tari Perut </strong></p>
<p>Beberapa tuturan Guntur secara khusus, memuat kejadian di luar negeri. Sebagai putra kebanggaan pemimpin bangsa, Guntur harus mematut dirinya kalau ikut ke luar negeri. Bahkan Guntur harus tahu basa-basi protokoler, hingga tata cara resepsi dan bangkuet kenegaraan.</p>
<p>Meski terlatih dan terbiasa, tetap saja Guntur dan juga Megawati, paling tak tahan kalau harus menyantap makanan Eropa berupa campuran telur ikan kaviar, lengkap berikut saus dan bumbu keju.</p>
<p>Bung Karno selaku bapak, mengajarkan Guntur cara menghindari sajian makanan kenegaraan. Tiap makanan yang sudah masuk mulut, lalu berpura-pura mengunyah dan segera keluarkan lagi dan disembunyikan di balik serbet. Kalau tamu dan tuan rumah lengah, serbet berisi makanan itu segera dibuang ke kolong meja.</p>
<p>Dari pengalamannya berkeliling dunia ikut rombongan kenegaraan, Guntur pun memiliki pengalaman selama bergaul dengan pembesar Indonesia lainnya.</p>
<p>Termasuk bergaul dengan jenderal berjengot lebat, Gatot Subroto.<br />
Waktu ikut rombongan K.T.T. Non-Blok di Beograd di Yugoslavia, Guntur sempat duduk di sebelah Gatot Subroto, meski kata Guntur, Oom Gatot senangnya tidur dalam pesawat.</p>
<p>Saat upacara penyambutan kenegaraan di bandara, Guntur yang berdiri di samping Gatot Subroto, tak sabar dan bertanya.</p>
<p>Oom upacaranya kok lama sekali? &#8230; saya sudah pegal berdiri nih.<br />
+ Podo (sama).<br />
Mau buang air kecil nih.<br />
+ Podo!<br />
WC-nya di mana ya Oom?<br />
+ Hayo cari WC umum di dekat sini. Ikut saja sama Oom!<br />
Oom di mana WC-nya?<br />
+ Lha ini apa (sambil menunjuk sebuah roda pesawat yang tingginya 1,5 m, terdiri dari 2 buah ban itu).<br />
Nanti dilihat orang oom!<br />
+ Mana bisa! Punyaku ketutup ban yang satu! Punyamu ketutup yang satunya &#8230; beres to! Ayo nguyuh!</p>
<p>Sedangkan salah satu tuturan Guntur, berupa hasil obrolannya dengan Bung Karno. Saat itu antara tahun 1967-1968 di Wisma Yaso, Bung Karno mengisahkan pengalamannya, sambil berbaring di kursi panjang dan tak jauh dari situ ada jururawat RSPAD yang bertugas menjaga kesehatan Soekarno.</p>
<p>Maka Bung Karno pun bertutur kepada putranya soal Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser..<br />
+ Suatu waktu Bapak ke Republik Persatuan Arab, dari Airport Cairo Bapak bersama rombongan langsung pergi ke penginapan &#8230; waktu itu Bapak betul-betul lelah &#8230; pokoknya Bapak hari itu mau istirahat total supaya besoknya dalam pertemuan dengan Pak Nasser Bapak benar-benar segar &#8230; Eh tidak tahunya datang Sabur ketok-ketok kamar Bapak &#8230; langsung ia Bapak semprot &#8230; Aku kan sudah bilang aku mau istirahat!<br />
Ada utusan Presiden Nasser &#8230; Pak.<br />
+ Dari manaaaa? Persetaaaan!<br />
Utusan dari Pak Nasser.<br />
+ Tidaak &#8230; ferrrdullliii.<br />
Ada utusan dari Presiden Nasser &#8230; Pak.<br />
+ Maneh gelo! Kunaon teu ngomong ti tadi (Kamu gila, kenapa tidak omong dari tadi). Siapa utusannya? Di mana dia sekarang?<br />
Inii Pak, aya di pengker abdii (ada di belakang saya). Marsekal Abdul Hakim Amir &#8230; Pak.<br />
+ Wah Sdr. Amir maafkan keadaan saya &#8230; maklumlah sudah mau tidur.<br />
Marsekal Amir mengambil tempat duduk dan mulai bicara. Namun pembicaraannya terlalu santun, hanya mengatakan Nasser ingin mengajak Bung Karno berinspeksi.</p>
<p>Bung Karno memberikan alasan, dirinya masih terlalu lelah. Lalu mengapa acara inspeksi ini mendadak, lagi pula dirinya perlu istirahat. Marsekal Amir agak kecewa, lalu meminta kesediaan Bung Karno agar menemani Nasser inspeksi. Bung Karno pun menolak dengan halus.</p>
<p>Tetapi eh soalnya adalah &#8230;<br />
+ Soal apa lagi?<br />
Soalnya Presiden kami mengundang sahabat beliau, yaitu Presiden Republik Indonesia untuk menginspeksi para penari perut di seluruh pelosok kota Kairo. Dan untuk itu kami diperintahkan untuk menyampaikannya pada paduka Yang Mulia &#8230;<br />
+ Oooh ya? Ho ho ho &#8230; Kenapa tak bilang dari tadi? Sampaikan pada Saudaraku Nasser, bahwa Soekarno dari Indonesia akan siap dalam 10 menit!</p>
<p>Begitulah percakapan dan kisah bapak terhadap putranya. Bagi Guntur Soekarno, segala pengalamannya bertemu, bergaul, dan berkomunikasi dengan sang bapak-kawan-guru &#8211; Bung Karno.</p>
<p>Dari buku kecil dan terbatas cetakannya, Guntur sudah berbagi pengalamannya buat orang lain. Mas Tok pun sudah berhasil menbgajak pembaca Indonesia untuk lebih mengebnal sang bapak, meski Soekarno sudah lama meninggal dunia.</p>
<p>Dalam tuturan Guntur, Bung Karno benar-benar hadir sebagai bapak dan manusia Indonesia. Meski begitu, Bung Karno tetaplah Soekarno yang senang tertawa dan bergaul dengan putra-putrinya, meski harus &#8220;terpaksa&#8221; berbohong sedikit, seperti tuturan Guntur dalam tulisan berjudul Bung Karno Tarzan Indonesia, sebagai berikut:</p>
<p>Rupanya ayah dan anak ini senang menonton film, terutama film Amerika Serikat. Sekali waktu (antara tahun 1957-1960), Guntur mengisahkan terjadi dialog dengan bapaknya, soal Johnny Weismuller yang memerankan Tarzan, ternyata juga juara renang Olimpiade.</p>
<p>Guntur mengajak bapaknya berenang. Bung Karno tak menampik, namun mengelak apabila ditanya kapan dan di mana mau berenangnya.<br />
Bung Karno selalu memberikan alasan sibuk, atau tak suka lokasi kolam renangnya. Akhirnya Bung Karno menjanjikan Guntur dan anak-anak lainnya akan berenang sama-sama di kolam alam Tampaksiring Bali. Guntur dan Magawati sudah siap mengenakan pakaian renangnya. Bung Karno masih santai-santai.</p>
<p>Celana berenang Bapak sudah ada? Abis Bapak mau pake apa?<br />
+ Pakai celana kolor saja &#8230;<br />
Guntur dan Mega sudah berenang, Soekarno masih berkeliling kolam, melihat situasi. lalu Bung Karno mulai membuka pakaian &#8230; tinggal memakai celana dalamnya.<br />
Semua kegirangan dan berteriak-teriak. Setelah membasahi dirinya dengan air, Bung Karno dengan gaya Tarzan berancang-ancang terjun dan berteriak keras-keras gaya Tarzan. Lalu Bung Karno terjun ke kolam. Guntur dan Mega kegirangan.<br />
+ Haaeeep &#8230; haeeepp &#8230; tolong Bbbapak! Och &#8230; och.<br />
Pak &#8230; kenapa Pak? + Ooocch! Bapak &#8230; och .. se &#8230; och &#8230; sebetulnya &#8230; och .. Bapak .. ndak &#8230; bisa &#8230; berenaaaangng!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djaloe.com/index.php/2009/09/tutur-guntur-soekarno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>An Icon&#8217;s Birthday Has Indonesia Looking to Past</title>
		<link>http://djaloe.com/index.php/2009/09/an-icons-birthday-has-indonesia-looking-to-past/</link>
		<comments>http://djaloe.com/index.php/2009/09/an-icons-birthday-has-indonesia-looking-to-past/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 08:03:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Djaloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Tjerita]]></category>
		<category><![CDATA[blitar]]></category>
		<category><![CDATA[new york times]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[sukarno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djaloe.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[By MARK LANDLER
A version of this article appeared in print on Monday, June 4, 2001, on section A page 4 of the New York Times edition.
This Wednesday marks the 100th anniversary of the birth of Sukarno, the founding president of Indonesia. After months of political intrigue involving the current president, Abdurrahman Wahid, people here are [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By MARK LANDLER</strong></p>
<p><em>A version of this article appeared in print on Monday, June 4, 2001, on section A page 4 of the <a href="http://www.nytimes.com/2001/06/04/world/an-icon-s-birthday-has-indonesia-looking-to-past.html?scp=6&amp;sq=blitar&amp;st=cse" target="_blank">New York Times</a> edition.</em></p>
<p>This Wednesday marks the 100th anniversary of the birth of Sukarno, the founding president of Indonesia. After months of political intrigue involving the current president, Abdurrahman Wahid, people here are desperate for a chance to change the subject.</p>
<p>Indonesia is celebrating the birthday on June 6 with an outpouring of festivals, conferences and commemorations. Tens of thousands of people are expected to make a pilgrimage to Blitar, the town on Java&#8217;s eastern end where Sukarno, a hero of Indonesian nationalism, was buried in 1970.<span id="more-99"></span></p>
<div id="attachment_100" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-100" title="soekarno-world-leader" src="http://djaloe.com/blitar/2009/09/soekarno-world-leader.jpg" alt="soekarno-world-leader" width="500" height="342" /><p class="wp-caption-text">President Sukarno with the world leaders. photo: life </p></div>
<p>A local newspaper, <a href="http://kompas.com">Kompas</a>, has published an 80-page section dedicated to the milestone. The articles range from a scholarly discussion of Sukarno&#8217;s economic legacy to profiles of his various wives.</p>
<p>Sukarno&#8217;s rehabilitation has been under way since his successor, Suharto, was toppled in 1998. But it has gathered force as Indonesia has slipped into yet another crisis. Parliament voted on May 30 to start proceedings to try to remove Mr. Wahid from office. He is scrambling to save his job.</p>
<p>&#8221;The coincidence in timing is amazing,&#8221; said Daniel Dhakidae, a commentator at Kompas. &#8221;It&#8217;s almost like the ghost of Sukarno has come back to say, &#8216;Hey you guys, what are you doing?&#8217; &#8221;</p>
<p>Mr. Dhakidae concedes that there is a good bit of revisionism in the heroic portrayal of Sukarno. He was no democrat, and he set the stage for three decades of authoritarian rule under President Suharto. For all his foibles, Mr. Wahid has been Indonesia&#8217;s first freely elected president.</p>
<p>Supporters of Mr. Wahid rallied this week in Jakarta to protest what they say is a witch hunt against their leader. Members of the Sukarno Front, a youth group with about 4,000 members, marched next to them. The front says Sukarno&#8217;s teachings provide the only road map out of chaos.</p>
<p>&#8221;We want to resuscitate the idealism and nationalism of Indonesia,&#8221; said Zulkilfi Manurung, 41, the group&#8217;s leader, who wore a black bandanna emblazoned with the words &#8221;Bung Karno,&#8221; or Brother Sukarno.</p>
<p>The contrast between Sukarno and Mr. Wahid could not be starker. One was a dashing and impulsive soldier who wore fashionable sunglasses and claimed John F. Kennedy as a friend; the other is a mystical Muslim cleric who is nearly blind and so incapacitated by strokes that he cannot walk without help.</p>
<p>Mr. Wahid&#8217;s frailties mirror those of his country. After three years of chronic upheaval, Indonesia is exhausted &#8212; a dispirited shadow of the place that once helped lead the Asian economic miracle.</p>
<p>&#8221;There is a yearning for firm leadership,&#8221; said Juwono Sudarsono, who has served as a cabinet minister under every president since Sukarno. &#8221;For many young Indonesians, including my son, who is in his early 20&#8217;s, Sukarno symbolizes a sense of nationhood that is missing today.&#8221;</p>
<p>A rebel leader who was jailed repeatedly by the colonial Dutch, Sukarno founded modern Indonesia in 1945. It was not until 1949, after four years of fierce fighting led by Sukarno, that the Netherlands finally relinquished its claim to the archipelago. Sukarno ruled for 17 tempestuous years until 1966, when he was ousted by General Suharto, another ambitious military officer.</p>
<p>For all his glory, Sukarno would be little more than a historical touchstone today, except that his daughter, Megawati Sukarnoputri, 54, is almost certain to succeed Mr. Wahid as president. People are studying Sukarno for clues as to what kind of leader his daughter would make.</p>
<p>Certainly, nobody has used the symbolism of Sukarno more shrewdly. Mrs. Megawati, an enigmatic former housewife who does little in her political role and says even less, has risen to become Indonesia&#8217;s pre-eminent political figure &#8212; and vice president &#8212; by portraying herself as her father&#8217;s heir.</p>
<p>&#8221;The people rallied behind Megawati&#8217;s party because she is the daughter of Sukarno,&#8221; said Permadi, a legislator who like many Indonesians uses only one name. &#8221;But her party has little relation to Sukarno organizationally or ideologically. They just put his picture on every poster and T-shirt.&#8221;</p>
<p>Mr. Permadi, a zealous devotee of Sukarno, frowns at this co-opting of the great leader&#8217;s image. His office is a shrine to the former president, with paintings and photos on every wall. On his calling card, he lists his occupation as &#8221;the extension of the tongue of Sukarno.&#8221; It is a title that Mr. Permadi, a man steeped in Javanese mysticism, takes quite literally.</p>
<p>In addition to mystics and nationalists, Sukarno has kept the loyalty of a dwindling cadre of former advisers, some of whom fought alongside him against the Dutch. These aging retainers gather to swap memories about Sukarno&#8217;s fervent patriotism, his busy love life and his defiance of the West.</p>
<p>Aside from her commitment to the unity of Indonesia, these people say, Mrs. Megawati has none of those traits.</p>
<p>&#8221;In a thousand years, there will only be one Sukarno,&#8221; said Jusuf Ronodipuro, the founding president&#8217;s former press secretary. &#8221;There&#8217;s no comparison between him and Megawati, no similarity at all, except that she is his daughter.&#8221;</p>
<p>That might be a good thing. The last years of Sukarno&#8217;s rule were calamitous for Indonesia, as he abridged civil liberties, skirmished with the military and the Communist Party and pursued an economic policy built on little more than thumbing his nose at the West.</p>
<p>&#8221;He left the country in a shambles, because of his incessant struggle to unify the country and because of his battles against the U.S. and Britain,&#8221; said Thee Kian Wee, an economic historian.</p>
<p>By the time he was effectively pushed aside by Suharto in January 1966 after an attempted coup, Sukarno was an isolated, bitter man. In that respect, at least, he is quite like his embattled successor, Mr. Wahid.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djaloe.com/index.php/2009/09/an-icons-birthday-has-indonesia-looking-to-past/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lakonnya &#8220;Kresno Gugah&#8221;</title>
		<link>http://djaloe.com/index.php/2009/09/lakonnya-kresno-gugah/</link>
		<comments>http://djaloe.com/index.php/2009/09/lakonnya-kresno-gugah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 01:30:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Djaloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tjerita]]></category>
		<category><![CDATA[blitar]]></category>
		<category><![CDATA[kresna]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[sukarno]]></category>
		<category><![CDATA[tempo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djaloe.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[TEMPO, Edisi 17/09 23 Jun 1979 Halaman 13

PERESMIAN PEMUGARAN MAKAM BUNG KARNO DI BLITAR, 21 JUNI 1979 OLEH PRESIDEN SOEHARTO. MALAM ITU DI RUMAH KAKAK BUNG KARNO DIPERGELARKAN WAYANG KULIT DENGAN LAKON &#8220;KRESNO GUGAH&#8221;. (NAS)
EDDY Slamet lega. Sekarang ia sudah mulai lagi makan jeroan. Setahun suntuk sejak 21 Juni 1978, Bupati Blitar itu pantang makan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TEMPO, Edisi 17/09 23 Jun 1979 Halaman 13<br />
</strong><br />
<em>PERESMIAN PEMUGARAN MAKAM BUNG KARNO DI BLITAR, 21 JUNI 1979 OLEH PRESIDEN SOEHARTO. MALAM ITU DI RUMAH KAKAK BUNG KARNO DIPERGELARKAN WAYANG KULIT DENGAN LAKON &#8220;KRESNO GUGAH&#8221;. (NAS)</em></p>
<p>EDDY Slamet lega. Sekarang ia sudah mulai lagi makan jeroan. Setahun suntuk sejak 21 Juni 1978, Bupati Blitar itu pantang makan nasi dengan lauk kegemarannya yang gurih itu. Kenapa? Ia rupanya punya nazar tidak makan jerohan sampai pemugaran makam Bung Karno selesai seluruhnya. Dan 21 Juni 1979 lalu, pemugaran makam Bung Karno jadi diresmikan oleh Presiden Soeharto, tepat 9 tahun lebih sehari wafat Proklamator itu.</p>
<div id="attachment_87" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-87" title="kresna-wisnu" src="http://djaloe.com/blitar/2009/09/kresna-wisnu.jpg" alt="kresna-wisnu" width="250" height="471" /><p class="wp-caption-text">PRABU KRESNA, inkarnasi Dewa Wisnu.</p></div>
<p>Presiden sendiri tidak menginap di Blitar. Setelah selesai meresmikan makam, kembali ke Jakarta. Sedang keluarga Bung Karno di Jakarta sejak semula sudah menyatakan tidak akan berangkat ke Blitar. &#8220;Kita sejak dulu kan tidak ikut-ikut dengan soal pemugaran itu. Dan kita tetap konsisten dengan sikap itu,&#8221; kata Guntur kepada TEMPO via telepon bulan lalu.</p>
<p>Pemugaran itu sendiri sudah rampung 100% pertengahan Mei lalu. Bangunan itu tampak megah. Gapuranya yang dirancang berbentuk candi Penataran, membuatnya jadi khas Jawa Timur. &#8220;Memang diusahakan agar semuanya khas, bahkan khas Blitar,&#8221; ujar Eddy Slamet. Hampir semua detail bangunannya persis seperti rencana semula. Hanya taman bunga yang rencananya terdiri dari mawar merah dan melati putih bak bendera republik, warna putihnya tak jadi dari melati tapi mawar.</p>
<p>Memang bisa difaham kalau dalam peresmian 21 Juni pun khalayak berjubel. Cuma mereka tak mungkin bisa menikmati bangunan megah makam Bung Karno itu. Kecuali orang tertentu, yang lain dilarang masuk kompleks makam.<br />
Bahkan untuk masuk kota Blitar pun, kecuali mobil para pejabat tinggi, jangan berharap bisa lolos.</p>
<div id="attachment_88" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-88" title="soekarno-blitar" src="http://djaloe.com/blitar/2009/09/soekarno-blitar.jpg" alt="soekarno-blitar" width="250" height="397" /><p class="wp-caption-text">PRESIDEN SUKARNO sungkem ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, 1946. Foto: LIFE/John Florea</p></div>
<p>Di saat-saat peresmian itu khalayak ramai jalan kaki masuk kota. Lalulintas macet dan hubungan darat pun putus. Karena itu Pemerintah Daerah sudah menyediakan keperluan pokok seperti minyak supaya tidak terjadi goncangan harga. Penduduk juga sudah dianjurkan menyediakan kebutuhan pokok sehati-hari untuk selama 2 hari.</p>
<p>Malam sebelumnya, di rumah Ibu Wardoyo di jalan Sultan Agung diselenggarakan pembacaan doa tablil. Tak kurang dari 40 ulama terkemuka dari Jawa Timur hadir. Dan malam itu juga di halaman rumah kakak Bung Karno itu dipergelarkan wayang kulit semalam suntuk dengan lakon &#8220;Kresno Gugah.&#8221; Dalangnya dalang muda dari Sala, Ki Anom Suroto.</p>
<p>Lakon seperti itu sengaja dipilih. Seperti penafsiran Pak Kiran &#8212; dukun terkenal dari desa Sukosewu, Blitar-lakon itu melambangkan &#8220;bangkitnya pikiran rakyat secara benar dalam menilai siapa sebenarnya Bung Karno.&#8221; Adalah Pak Kiran, satu di antara sedikit orang, yang menjelang peresmian pemugaran itu bebas keluar masuk makam yang tertutup rapat itu.</p>
<p>Seperti peringatan sewindu wafat Bung Karno tahun lalu, malam 21 Juni itu di kompleks rumah Ibu Wardoyo juga dipergelarkan kesenian Bali oleh keluarga Bung Karno dari Pulau Dewata. Dan peristiwa itu juga dimanfaatkan oleh dua pelukis Jember dengan mereproduksi lukisan Bung Karno. Sudah sebulan mereka mengontrak sebuah rumah penduduk yang dirubahnya jadi studio.<br />
Ibu Wardoyo sendiri sudah 4 bulan tidak keluar rumah. Ia sakit.</p>
<p>&#8220;Tapi sekarang saya sudah agak sehat. Saya senang, justru semakin dekat peresmian semakin sehat,&#8221; katanya seminggu sebelum peresmian. Ia memang sangat ingin hadir di makam pada saat peresmian. Dan karenanya, kondisi kesehatannya sangat dijaga.</p>
<p>Dalam usia menjelang 81 tahun, Ibu Wardoyo memang terlalu sibuk menerima banyak tamu tahun-tahun terakhir ini. Akan halnya pengelolaan makam itu setelah diresmikan, Bupati Eddy Slamet belum bisa menjelaskan. &#8220;Yang pasti, juru kuncinya harus orang yang bisa 4 bahas: Inggeris, Perancis, Belanda dan Jepang,&#8221; katanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djaloe.com/index.php/2009/09/lakonnya-kresno-gugah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
